Menatap Hari Esok

Archive for the ‘Munakahat dan Rumah tangga’ Category

Tahukah kamu ada suatu dalil yang jika seorang wanita/istri meyakini atau memahaminya dengan ditelan mentah-mentah, maka dapat menghancurkan rumah tangganya, akan hilang sakinah, mawaddah, warahmah (kedamaian, ketentraman, ciinta dan kasih sayang) dalam keluarganya, dan dapat membuat retak keharmonisan dalam rumah tangga. Serta ada kemungkinan juga ke ambang perceraian.

Hal ini saya bahas melihat tingginya angka perceraian di negeri ini. Dan herannya bahkan orang Islam yang rajin mengaji pun kadang tak luput dari perceraian.

Hadits atau dalil yang saya maksud ialah mengenai, “bahwa kewajiban seorang istri hanyalah melayani suaminya untuk urusan syahwat atau berhubungan badan suami istri saja”

Sehingga tugasnya untuk mengurus dan mendidik anak, memaintance urusan rumah tangga seperti mencuci, masak, menyiapkan minum untuk suami, dll adalah bukan urusannya sebagai seorang istri melainkan kewajiban suaminya.

“pekerjaan rumah tangga menjadi tanggung jawab suami”  bisa dilakukan sendiri oleh suami ataupun dengan menggaji pekerja rumah tangga.

Yah itulah dalil yang jika ditelan bulat-bulat oleh seorang wanita atau istri maka dapat menghancurkan rumah tangganya, akan hilang sakinah, mawaddah, warahmah (kedamaian, ketentraman, ciinta dan kasih sayang) dalam keluarganya, dan dapat membuat retak keharmonisan dalam rumah tangga. Serta ada kemungkinan juga ke ambang perceraian. Saya pribadi sering mendengar dalil-dalil semacam ini disampaikan oleh orang-orang berlabel Ustadz baik di radio, buku maupun majelis ta’lim. Sungguh mengerikan jika kata-kata tersebut ditelan mentah-mentah.

Bisa dibayangkan jika wanita menelan dalil tersebut maka ketika suami pulang ke rumah setelah sangat lelah bekerja seharian di kantor, maka jangan harap sepulang dari rumah istrinya akan melayaninya, membuatkan secangkir kopi untuknya, menyiapkan air hangat untuk suaminya mandi, menyiapkan suaminya makan malam, bahkan memijit tubuh suaminya yang kelelahan bekerja seharian.

Hal tersebut tinggallah impian. Yang ada, sepulang kerja istri akan banyak menuntut. Suami diwajibkan menyiapkan atau membelikan makan malam, melayani istri jika istri membutuhkan sesuatu, mengurus anak-anak dari yang harus dimandikan, digantikan pampers, merapihkan mainan anak. Hingga mengepel dan menyapu lantai jika si anak mengotori lantai. Belum sampai disitu kebutuhan rumah tangga dari sembako, membeli pampers, beras, dsb harus dibelanjakan oleh suami.

Jika sang suami pulang karena capek langsung selonjoran atau ketiduran maka sang istri akan marah, mengomel dan memarahi sang suami.

Maka, kesabaran yang dapat memelihara agar rumah tangga tersebut tidak mengalami keretakan.

Namun, rumah tangga akan hambar jika hal ini dibiarkan.

Dalam syariat Islam sebenarnya istri tidak boleh seperti ini. Karena istri memiliki kewajiban dalam mengurus rumah tangga juga. Mari kita bahas sejenak.

Dalam haditsnya, Rasulullah menjelaskan tentang tanggung jawab kepemimpinan. “Setiap kamu adalah pemimpin. Dan setiap pemimpin bertanggung jawab atas kepemimpinannya. Imam itu pemimpin dalam keluarganya, bertanggung jawab tentang kepemimpinannya. Laki-laki itu pemimpin, bertanggung jawab tentang kepemimpinannya. Wanita itu pemimpin dalam rumah tangganya dan bertanggung jawab tentang kepemimpinannya. Khadam itu pemimpin bagi harta majikannya, bertanggung jawab terhadap kepemimpinannya,” (HR Bukhari).

Abdul Halim Abu Syuqqoh dalam Tahrirul Mar’ah mengomentari kalimat “Wanita itu pemimpin dalam rumah tangganya dan bertanggung jawab tentang kepemimpinannya”. Menurutnya, bukan berarti wanita harus melaksanakan sendiri semua tugas rumah tangganya, mulai dari menyiapkan makanan, mencuci, menyetrika hingga membersihkan rumah. Tapi yang dimaksud adalah, semua itu merupakan tanggung jawab (pengawasannya), namun bisa dilaksanakan orang lain seperti pekerja rumah tangga (pembantu), anak-anak, kerabat atau dibantu suaminya sendiri. Maka semua itu bergantung pada kemampuan nafkah dan finansial suami, juga kesempatan dan kemampuan istri untuk melaksanakannya dengan tidak mengabaikan tugas utama yang lainnya, yaitu merawat anak-anak dan mendidiknya dengan baik.

Sementara fuqaha yang lain berpendapat, melayani suami dan melakukan pekerjaan rumah merupakan kewajiban istri. Dalam hadits yang diriwayatkan Ahmad dan Thabrani, Rasulullah saw bersabda, “Jika seorang perempuan telah mengerjakan shalat fardhu lima waktu, puasa di bulan Ramadhan, menjaga kehormatannya dan taat kepada suaminya, maka akan dikatakan kepadanya: masuklah ke dalam surga dari pintu mana saja yang engkau sukai.”

Maka seorang istri, ketika diperintahkan suaminya untuk mencuci dan memasak, ia harus menaatinya. Karena melayani suami dengan memasakkan makanan dan mencuci pakaiannya merupakan bagian dari ketaatan pada suami. Nabi saw dan para sahabat Nabi menyuruh istri-istrinya membuatkan roti, memasak, membersihkan tempat tidur, menghidangkan makanan, dan sebagainya. Tidak seorang pun dari mereka yang menolak pekerjaan tersebut.

Terlepas dari dua pandangan yang berbeda tersebut, pada prinsipnya, hubungan suami istri dalam Islam dibangun atas dasar cinta dan kasih sayang, saling percaya, saling tolong menolong dalam suka dan duka. Seluruh urusan dalam rumah tangga berlandaskan saling ridha dan musyawarah. Masing-masing pihak ikhlas menerima kelebihan dan kekurangan pasangannya. Mereka harus saling menasihati, saling membantu untuk menunaikan tanggung jawab kehidupan suami istri serta pemeliharaan anak-anak dan pendidikan mereka dalam setiap situasi dan kondisi. Rumah tangga tidak akan harmonis jika hubungan yang dibangun atas penuntutan hak, bersifat hitam putih, kaku dan saklek.

Semoga Allah memberkahi istri-istri yang menghabiskan hari-harinya untuk mendidik anak dan memelihara rumah tangganya dengan mengharapkan ridha Allah semata. Dan semoga Allah memberkahi suami-suami yang menghabiskan masa hidupnya dalam berusaha memenuhi kebutuhan keluarga, anak-anaknya, dan tulus membantu istrinya dalam mengerjakan tugas-tugas rumahnya. Semoga Allah meridhai rumah tangga yang dibangun atas azas wata’awanu ‘alal birri wat taqwa, saling menolong dalam perbuatan kebaikan dan ketakwaan. Wallahu a’lam.

Iklan

Wanita yang Aduannya Didengar Allah dari Langit Ketujuh

Friday, July 25th, 2008

Penyusun: Ummu Sufyan

Beliau adalah Khaulah binti Tsa’labah bin Ashram bin Fahar bin Tsa’labah Ghanam bin Auf. Suaminya adalah saudara dari Ubadah bin Shamit, yaitu Aus bin Shamit bin Qais. Aus bin Shamit bin Qais termasuk sahabat Rasulullah yang selalu mengikuti Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam peperangan, termasuk perang Badar dan perang Uhud. Anak mereka bernama Rabi’.

Suatu hari, Khaulah binti Tsa’labah mendapati suaminya sedang menghadapi suatu masalah. Masalah tersebut kemudian memicu kemarahannya terhadap Khaulah, sehingga dari mulut Aus terucap perkataan, “Bagiku, engkau ini seperti punggung ibuku.” Kemudian Aus keluar dan duduk-duduk bersama orang-orang. Beberapa lama kemudian Aus masuk rumah dan ‘menginginkan’ Khaulah. Akan tetapi kesadaran hati dan kehalusan perasaan Khaulah membuatnya menolak hingga jelas hukum Allah terhadap kejadian yang baru pertama kali terjadi dalam sejarah islam (yaitu dhihaar). Khaulah berkata, “Tidak… jangan! Demi yang jiwa Khaulah berada di tangan-Nya, engkau tidak boleh menjamahku karena engkau telah mengatakan sesuatu yang telah engkau ucapkan terhadapku sampai Allah dan Rasul-Nya memutuskan hukum tentang peristiwa yang menimpa kita.”

Kemudian Khaulah keluar menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk meminta fatwa dan berdialog tentang peristiwa tersebut. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Kami belum pernah mendapatkan perintah berkenaan dengan urusanmu tersebut… aku tidak melihat melainkan engkau sudah haram baginya.” Sesudah itu Khaulah senantiasa mengangkat kedua tangannya ke langit sedangkan di hatinya tersimpan kesedihan dan kesusahan. Beliau berdo’a, “Ya Allah sesungguhnya aku mengadu tentang peristiwa yang menimpa diriku.” Tiada henti-hentinya wanita ini ini berdo’a hingga suatu ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pingsan sebagaimana biasanya beliau pingsan tatkala menerima wahyu. Kemudian setelah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sadar, beliau bersabda, “Wahai Khaulah, sungguh Allah telah menurunkan ayat Al-Qur’an tentang dirimu dan suamimu.” kemudian beliau membaca firman Allah yang artinya, “Sesungguhnya Allah telah mendengar perkataan wanita yang mengajukan gugatan kepada kamu tentang suaminya, dan mengadukan (halnya) kepada Allah. Dan Allah mendengar soal jawab antara kamu berdua. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat…..” sampai firman Allah: “Dan bagi orang-orang kafir ada siksaan yang pedih.” (QS. Al-Mujadalah:1-4)

Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan kepada Khaulah tentang kafarah dhihaar, yaitu memerdekakan budak, jika tidak mampu memerdekakan budak maka berpuasa dua bulan berturut-turut atau jika masih tidak mampu berpuasa maka memberi makan sebanyak enam puluh orang miskin.

Inilah wanita mukminah yang dididik oleh islam, wanita yang telah menghentikan khalifah Umar bin Khaththab saat berjalan untuk memberikan wejangan dan nasehat kepadanya. Dalam sebuah riwayat, Umar berkata, “Demi Allah seandainya beliau tidak menyudahi nasehatnya kepadaku hingga malam hari maka aku tidak akan menyudahinya sehingga beliau selesaikan apa yang dia kehendaki, kecuali jika telah datang waktu shalat maka saya akan mengerjakan shalat kemudian kembali untuk mendengarkannya hingga selesai keperluannya.”

Alangkah bagusnya akhlaq Khaulah, beliau berdiri di hadapan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan berdialog untuk meminta fatwa, adapun istighatsah dan mengadu tidak ditujukan melainkan hanya kepada Allah Ta’ala. Beliau berdo’a tak henti-hentinya dengan penuh harap, penuh dengan kesedihan dan kesusahan serta penyesalan yang mendalam. Sehingga do’anya didengar Allah dari langit ketujuh.

Allah berfirman yang artinya, “Berdo’alah kepada-Ku, niscaya akan Ku-perkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari beribadah (berdo’a) kepada–Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina.” (QS. Al-Mu’min: 60)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda yang artinya, “Sesungguhnya Rabb kalian Yang Maha Suci lagi Maha Tinggi itu Maha Malu lagi Maha Mulia, Dia malu terhadap hamba-Nya jika hamba-Nya mengangkat kedua tangannya kepada-Nya untuk mengembalikan keduanya dalam keadaan kosong (tidak dikabulkan).” (HR. Abu Dawud, At-Tirmidzi dan Ibnu Majah)

Hikmah

Tidak setiap do’a langsung dikabulkan oleh Allah. Ada faktor-faktor yang menyebabkan do’a dikabulkan serta adab-adab dalam berdo’a, diantaranya:

  1. Ikhlash karena Allah semata adalah syarat yang paling utama dan pertama, sebagaimana firman Allah yang artinya, “Maka sembahlah Allah dengan memurnikan ibadah kepada-Nya, meskipun orang-orang kafir tidak menyukai(nya).” (QS. Al-Mu’min: 14)
  2. Mengawali do’a dengan pujian dan sanjungan kepada Allah, diikuti dengan bacaan shalawat atas Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan diakhiri dengan shalawat lalu tahmid.
  3. Bersungguh-sungguh dalam memanjatkan do’a serta yakin akan dikabulkan. Sebagaimana yang dilakukan oleh Khaulah binti Tsa’labah radhiyallahu ‘anha.
  4. Mendesak dengan penuh kerendahan dalam berdo’a, tidak terburu-buru serta khusyu’ dalam berdo’a.
  5. Tidak boleh berdo’a dan memohon sesuatu kecuali hanya kepada Allah semata.
  6. Serta hal-hal lain yang sesuai tuntunan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Selain hal-hal di atas, agar do’a kita terkabul maka hendaknya kita perhatikan waktu, keadaan, dan tempat ketika kita berdo’a. Disyari’atkan untuk berdo’a pada waktu, keadaan dan tempat yang mustajab untuk berdo’a. Ketiga hal tersebut merupakan faktor yang penting bagi terkabulnya do’a. Diantara waktu-waktu yang mustajab tersebut adalah:

  1. Malam Lailatul qadar.
  2. Pertengahan malam terakhir, ketika tinggal sepertiga malam yang akhir.
  3. Akhir setiap shalat wajib sebelum salam.
  4. Waktu di antara adzan dan iqomah.
  5. Pada saat turun hujan.
  6. Serta waktu, keadaan, dan tempat lainnya yang telah diberitakan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Semoga Allah memberikan kita taufiq agar kita semakin bersemangat dan memperbanyak do’a kepada Allah atas segala hajat dan masalah kita. Saudariku, jangan sekali pun kita berdo’a kepada selain-Nya karena tiada Dzat yang berhak untuk diibadahi selain Allah Subhanahu wa Ta’ala dan janganlah kita berputus asa ketika do’a kita belum dikabulkan oleh Allah. Wallahu Ta’ala a’lam.

Maraji’:

  1. Wanita-wanita Teladan di Masa Rasulullah (Pustaka At-Tibyan)
  2. Do’a dan Wirid (Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawaz – Pustaka Imam Syafi’i)

***

Artikel http://www.muslimah.or.id

berbhakti pada ortu

 

Lelaki Berbakti pada Ibu dan Istri Berbakti pada Suami

Assalamu’alaikum wr wb,

Banyaknya perceraian terjadi karena istri/suami tidak
menyadari posisi masing2. Begitu pula kadang istri
kurang menghormati ibu mertuanya sehingga bisa konflik
bukan hanya dengan suami, tapi juga dengan ibu
mertuanya.

Padahal Islam sudah mengatur posisi masing-masing.
Ibarat tentara, Ada Jendral, ada Kapten, dan ada
Kopral. Kopral harus menghormati Kapten dan Kapten
harus menghormati Jenderal. Sehingga ada keteraturan.

Sebaliknya kalau semua merasa jendera, maka yang ada
kekacauan.

Meski demikian Islam juga mengajarkan agar pemimpin
tidak sewenang-wenang dan menyayangi orang yang
dipimpinnya. Seorang suami misalnya punya kewajiban
menafkahi secara lahir dan batin pada keluarganya.

bhakti pada suami

 

Berikut hadits-hadits tentang itu.

Seorang pria harus berbakti pada ibunya:
Hadis riwayat Abu Hurairah ra., ia berkata:
Seseorang datang menghadap Rasulullah saw. dan
bertanya: Siapakah manusia yang paling berhak untuk
aku pergauli dengan baik? Rasulullah saw. menjawab:
Ibumu. Dia bertanya lagi: Kemudian siapa? Rasulullah
saw. menjawab: Kemudian ibumu. Dia bertanya lagi:
Kemudian siapa? Rasulullah saw. menjawab: Kemudian
ibumu. Dia bertanya lagi: Kemudian siapa? Rasulullah
saw. menjawab lagi: Kemudian ayahmu. (Shahih Muslim
No.4621)

Hadis riwayat Abdullah bin Umar ra., ia berkata:
Seseorang datang menghadap Nabi saw. memohon izin
untuk ikut berperang. Nabi saw. bertanya: Apakah kedua
orang tuamu masih hidup? Orang itu menjawab: Ya. Nabi
saw. bersabda: Maka kepada keduanyalah kamu berperang
(dengan berbakti kepada mereka). (Shahih Muslim
No.4623)

Ada pun seorang istri harus berbakti pada suaminya.
Sebab pada ijab-qabul, maka ayah mempelai wanita
sebagai wali telah menyerahkan anaknya kepada sang
suami.

Seorang istri harus berbakti pada suaminya:

Seorang isteri yang ketika suaminya wafat meridhoinya
maka dia (isteri itu) akan masuk surga. (HR. Al Hakim
dan Tirmidzi)

Allah Swt kelak tidak akan memandang (memperhatikan)
seorang wanita yang tidak bersyukur kepada suaminya
meskipun selamanya dia membutuhkan suaminya. (HR. Al
Hakim)

Hak suami atas isteri ialah tidak menjauhi tempat
tidur suami dan memperlakukannya dengan benar dan
jujur, mentaati perintahnya dan tidak ke luar
(meninggalkan) rumah kecuali dengan ijin suaminya,
tidak memasukkan ke rumahnya orang-orang yang tidak
disukai suaminya. (HR. Ath-Thabrani)

Tidak sah puasa (puasa sunah) seorang wanita yang
suaminya ada di rumah, kecuali dengan seijin suaminya.
(Mutafaq’alaih)

Tidak dibenarkan seorang wanita memberikan kepada
orang lain dari harta suaminya kecuali dengan ijin
suaminya. (HR. Ahmad)

Tidak dibenarkan manusia sujud kepada manusia, dan
kalau dibenarkan manusia sujud kepada manusia, aku
akan memerintahkan wanita sujud kepada suaminya karena
besarnya jasa (hak) suami terhadap isterinya. (HR.
Ahmad)

(Tulisan ini saya ambil dari blog mas Reza ervani, insyaAlloh memberi kita pencerahan dan inspirasi.)

Tulisan ini dibuat oleh ibu beberapa hari setelah kami menikah bulan Mei 2008 yang lalu. Sangat mengharukan. Sengaja diarsipkan disini untuk bisa dibaca bersama. Sebagai pengingat bagi kami, betapa dalamnya cinta seorang ibu pada anaknya.

****

Buah Hati

Entah siapa yang menemukan istilah “ Buah hati”.
Yang jelas, pastilah  Dia orang yang sangat  halus & Lembut perasaannya.
Saat kita  mengucapkan kata Buah hati.  Siapakah yang terlintas dalam pikiran kita ?
Pastilah orang yang disayangi & dicintai.

Siapa Dia…..?
Kekasih ?, suami/Istri?, orang tua?, sahabat dekat?.
Ternyata bukan mereka.
Kata Buah hati lebih tepat ditujukan pada Anak – anak kita.. Amanah Allah yang dititipkan kepada kita. Berapapun jumlahnya

Akupun baru mengerti betapa  Indah dan dalamnya kata-kata itu, setelah anakku disuting oleh Pangeran Idamannya.
Putri anakku kuliah di luar kota tepatnya di Bandung.
Kurang lebih 4  Jam perjalanan dengan Bus dari rumah kami. Dia tinggal di kamar kontrakan alias indekos.
Pulang kerumah  sebulan  atau  dua bulan saat dia libur kuliahnya. Kadang-kadang  kami orangtuanya yang menengok .
Kami rasakan wajar &  biasa saja.

Suatu hari Putri telephon dari Bandung , memberitahukan kalau  ada pemuda yang  mengajaknya menikah.
Serius sekali Dia.
Sejujurnya, itu adalah berita yang sangat membahagiakan kami selaku orang tuanya. Karena  sebentar  lagi di usia  muda, & productif, dia sudah disunting orang.
Namun ada keraguan juga dihatiku . Berkali-kali kutelephon Putri  agar berpikir & Istikharah.
Dan selalu juga dijawab dengan penuh kesungguhan & kemantapan.

Giliran kami orangtuanya yang harus Istikharah untuk mohon petunjuk dari Allah. Agar keputusan kami selalu dalam Tuntunan & JalanNya.

Akhirnya disepakati tanggal & hari untuk Ta’aruf. (berkenalan dengan keluarga).
Sholat Istikharah- Mohon petunjuk Allah  masih berlanjut.
Hingga kemantapan datang, saat terngiang  kandungan Al-Qur’an surat Annur ayat 26:
“………wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik. Dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik….”

Seminggu kemudian ditentukan pula hari  untuk Khitbah /meninang Putri.
Hari-hari menunggu pangerannya Putri datang kerumah untuk meminang,
Badanku terasa panas-dingin tidak menentu.
Sering demam dengan panas tinggi. Ke Dokter hanya diberi Vitamin & penurun panas.
Malam hari tidur tidak pernah nyenyak.
Akibatnya……… di kantor ngantuuuk.
Aku sendiri heran… Apa telah yang terjadi denganku ?
Hal yang sama pernah aku alami saat diriku dipinang oleh Bapaknya Putri (itu terjadi 24 tahun yang lalu).

Akhirnya saat  hari pinangan  tiba. Semuanya sibuk bersih-bersih.
Ya rumah, gorden  dll. Tak lupa membersihkan diri.
Pangerannya datang bersama Ibu, adik &  kerabatnya.
Disepakatilah hari & tanggal pernikahannya.
Dihari itu badanku menggigil.
Hingga acara pinangan usai sore hari. Aku nggak kuat lagi untuk berdiri.
Badanku panas. Demam tinggi hingga 3 hari.

Tiga minggu kemudian pernikahan berlangsung.
Ijab Kobul usai diucapkan…..
Ada rasa  Lega yang sangaat dalam.
Rasa bahagia yang sangaaat Indah
Rasa haru yang luar biasa.

Namun ….
Ada sesuatu yang tercabut dari hati yang paliiiiing dalam.
Ada satu ruang kosong dalam hati.
Dilain sisi Aku dihujani oleh ucapan Selamat.

Tak dapat dipungkiri, Hari itu kuterima ucapan dengan  rasa syukur Alhamdulillah.
Atas Amanah Allah  yang dititipkan padaku.
Maha Suci Allah yang telah memberiku kepekaan perasaan.
Sehingga dapat merasakan saat  Amanah itu berpindah  pada orang lain yang sekarang sudah menjadi suaminya.

Terbayang kembali  Putri kecilku saat dalam gendongan.
Kutimang, kusayang dan terbayang manjanya.
Bersyukur karena Amanah itu dapat bersamaku.
Hingga datang Sang “Pemetik”
Seperti di alam mimpi. (Hingga aku berdo’a, agar yang terjadi bukan mimpi yang hadir sesaat).

Tiga hari setelah menikah, Putri pamit akan kembali ke Bandung. Tentu saja bersama Pangeran yang sudah berstatus suaminya .
Menikmati masa-masa indah bulan madu nya.
Dan kembali beraktifitas.
Putri melanjutkan kuliahnya yang tinggal 1 semester lagi.
Kupeluk & cium mereka.
Kupandangi kepergiannya dengan rasa penuh Cinta.

Sepeninggal mereka…..
Detik-detik berjalan , terasa sangat lambat.
Ada sesuatu yang hilang dalam rumah ini.
Dalam hati ada yang ikut pergi.
Benar-benar ada yang hilang.
Ada keharuan  & kebahagiaan yang sangat dalam.
Rasa Rindu yang sangat mendera..
Ada aliran hangat di pipi.
Kupeluk Si bungsu adiknya putri.
Dia menangis juga dalam pelukanku sambil memanggil-manggil Putri kakaknya.
Kupandang Bapaknya Putri. Yang diam mematung memandang jejak-jejak Putri.

Sudah  sebulan putri menikah.
Namun perasaan  haru dan  kehilangan itu belum juga hilang.
Sering Aku, suami & adiknya putri berbincang, menenangkan diri.
Membuka-buka album foto keluarga.

Berbeda perasaan dengan tiga tahun yang lalu
Saat putri pamit ke Bandung untuk kuliah.
Tidak ada perasaan kehilangan.

Dan sekarang ,….Purti tetap kuliah. Dikota yang sama.
Apa yang terjadi ?
Mengapa  perasaan  berbeda ?
Mengapa ada yang hilang  sehingga kerinduan mendera?
Mengapa ada yang terbawa ?
Mengapa Haru ?
Mengapa menangis ?

Rupanya  BUAH HATI ku sudah dipetik
Aliran darahku ada yang terbawa.
Kasihku ada dihatinya.
Yang kini sudah menyatu dengan Hati pangerannya.
Ya  Allah,
Engkau  telah menghimpun hati-hati ini dalam CINTAMU.
Maka bimbinglah  kami agar selalu di JalanMu.
Nama “BUAH HATI” selalu terucap dalam setiap Do’a kepadaNya.


Blog Stats

  • 30,678 hits
November 2017
S S R K J S M
« Jun    
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
27282930